Powered By Blogger

Rabu, 06 Januari 2016

Aplikasi Sistem Informasi Geografis Dalam Penentuan Kesesuaian Kawasan Keramba Jaring Tancap Dan Rumput  Laut Di Perairan Pulau Bunguran  Kabupaten Natuna
Irwandy Syofyan1), Rommie Jhonerie1), Yusni Ikhwan Siregar1)
1)Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau


        Masyarakat yang tinggal di kabupaten Natuna menggantungkan hidupnya dalam bidang perikanan baik dalam bidang penangkapan maupun pada bidang budidaya. Kabupaten Natuna memiliki potensi yang signifikan untuk karamba jaring tancap dan rumput laut, hanya saja tata ruangnya yang kurang baik. Dalam mengetahui kondisi ruang yang baik untuk karamba jaring tancap dan rumput laut dengan menggunakan alat Citra satelit Landsat 5 TM Path/Row 123/57 direkam pada tahun 2002 dan Peta digital kedalaman perairan Pulau Bunguran serta Peta Laut Natuna, Dishidros TNI AL. Metode yang digunakan yaitu metode survai dengan memanfaatkan aplikasi SIG. SIG memiliki fungsi yang efektif dalam penggunannya dalam analisa keruangan. Metode lain yang digunakan yaitu Weighted overlay merupakan sebuah teknik untuk menerapkan sebuah skala penilaian untuk membedakan dan menidaksamakan input menjadi sebuah analisa yang terintegrasi. Weighted overlay memberikan pertimbangan terhadap factor atau kriteria yang ditentukan dalam sebuah proses pemilihan kesesuaian. Data hasil yang diperoleh menngunakan metode Weighted overlay hasil baik untuk digunakan pada karamba jaring tancap yaitu pada daerah Pulau Bunguran. Hampir sepanjang garis pantai Pulau Bunguran dapat dilakukan aktifitas KJT dan rumput laut seperti keramba jaring tancap maupun budidaya rumput laut. Hasil dari Desa Pengadah, Kelanga, Tanjung dan Sepempang tidak sesuai untuk KJT dan rumput laut dikarenakan terdapat ganggungan atmosfir. Hasil dari data Desa Cemaga cukup layak untuk KJT dan rumput laut karena tidak begitu menganggu dari atmosfir, sedangkan Kelas tidak sesuai dapat ditemukan disepanjang garis pantai Tanjung Medang dan pada beberapa pulau kecil yang berada di kawasan Desa Cemaga. Hasil siaman citra menunjukkan beberapa bagian kawasan di Pulau Tiga tertutupi oleh awan baik untuk daratan maupun perairannya. kesesuaian kawasan terlihat sebagian besar kawasan pada perairan Pulau Tiga tidak sesuai khususnya pada bagian luar Pulau Tiga yang berada di bagian Barat Selatan dan Timur. Namun pada perairan antar pulau (selat-selat) merupakan kawasan yang sangat sesuai dan sesuai untuk aktifitas KJT dan rumput laut, Di perairan Desa Kelarik sebagian besar merupakan kawasan yang cocok untuk melakukan kegiatan KJT dan rumput laut. Dominasi kelas kesesuaian sesuai dan sangat sesuai tersebar merata diperairannya. Kelas tidak sesuai hanya berada pada sekitar pulaupulau kecil yang berada dalam naungan administrasi Desa Kelarik, ketidak sesuaian disebabkan oleh faktor kedalaman yang menjadi pembatas kesesuaian karena memiliki pengaruh yang paling besar diantara factor-faktor lainnya.


Microbiological assessment along the fish production chain of the
Norwegian pelagic fisheries sector e Results from a spot sampling
programme


               Cecilie Smith Svanevik*, Irja Sunde Roiha, Arne Levsen, Bjørn Tore Lunestad

                                                                          Elsevier 

 National Institute of Nutrition and Seafood Research, P.O. Box 2029 Nordnes, Bergen, Norway


Abstrak :  
        Mikroba merupakan suatu peran penting dalam degradasi produk ikan dan pengetahuan sehingga akan lebih baik apabila kondisi mikrobiologi seluruh rantai produksi ikan dapat membantu untuk mengoptimalkan kualitas produk dan pemanfaatan sumber daya. Makalah ini menyajikan hasil dari program tempat pengambilan sampel sepuluh tahun (2005 - 2014) yang paling komersial adalah spesies ikan pelagis yang berperan penting ketika dipanen di Norwegia. Ikan dipermukaan dan sampel air penyimpanannya dikumpulkan dari kapal penangkap ikan dan pabrik pengolahan. Benar-benar 1 181 sampel dinilai sehubungan dengan kualitas mikrobiologi, kebersihan dan keamanan pangan. Kami memperkenalkan kualitas dan skema penilaian keamanan untuk ikan pelagis segar merekomendasikan batas untuk jumlah piring heterotrofik (HPC), termos toleran coliform, enterococci dan Listeria monocytogenes. Menurut skema, di 25 dari 41 sampling, kondisi sub-optimal ditemukan sehubungan dengan kualitas, sedangkan di 21 dan 9 sampling, sampel tidak memenuhi mengenai kebersihan dan keamanan pangan, masing-masing. Saat ini Penelitian telah mengungkapkan bahwa kualitas ikan pelagis dapat dioptimalkan dengan meningkatkan kebersihan Kondisi lingkungan di beberapa titik kritis pada fase awal dari rantai produksi. Dengan demikian, yang diusulkan diskema penilaian dapat memberikan alat yang berguna bagi industri untuk mengoptimalkan kualitas dan mempertahankan konsumen serta keamanan produk perikanan pelagis.

Keyword :
Microbiological assessment
Norwegian pelagic fish sector
Quality
Hygiene
Safety
Listeria monocytogenes

Tahap mencari jurnal international dalam bidang perikanan dengan menggunakan website sciencedirect

1. Pertama masuk kedalam website scince direct dengan alamat website siencedirect.com dan kemudian akan terlihat tampilann seperti ini


 2. Kedua untuk mencari jurnal yang diinginkan hanya perlu mengetik kata kunci yang diinginkan seperti gambar berikut ini


3. Setelah mengetikan kata kunci yang diinginkan kemudia akan terlihat beberapa jurnal yang diinginkan baik pada open access yag berwarna kuning dan juga close access yang berwarna putih seperti gambar berikut. 





4. Kemudian tahap terakhir hanya perlu mengklik jurnal yang diinginkan, dan akan muncul jurnal tersebut. dan untuk mendownload jurnal tersebut secara gratis cukup klik download pdf seperti gambar berikut.




Rabu, 18 November 2015

Bioinfomatika Dalam Bidang Perikanan

Polymerase chain reaction memilik manfaat bagi kehidupan manusia karena dapat membantu untuk melipat gandakan DNA dengan bantuan enzim DNA Polimerase. PCR juga memiliki teknologi untuk rekayasa dan memperanyak suatu genetik , selain itu PCR (Polymerase chain reaction) juga dapat membantu untuk mendeteksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) yang terbaik didalam tubuh kepiting. PCR (Polymerase chain reaction) berguna bagi kompetensi manusia secara umum dapat digunakan untuk isolasi Gen pada makhluk hidup karena manusia memiliki DNA yang didalamnya mengandung berbagai gen, fungsi dari DNA sebagai sandi dari genetik yang didalamnya terdapat protein. PCR juga berguna bagi kompetensi manusia secara umum untuk menentukan kondisi urutan nukleotida suatu DNA yang mengalami mutasi genetik dan untuk membandingkan suatu finger print.
            Polymerase chain reaction cukup etis untuk norma nilai masyarakat karena memberikan dampak yang baik kepada masyarakat bukan memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat karena Polymerase chain reaction membantu untuk mengaplikasikan DNA dengan cara melipat gandakan DNA yang terdapat dalam gen manusia. DNA diperbanyak atau dilipat gandakan agar mendapatkan sandi genetik lebih banyak lagi bagi manusia. Polymerase chain reaction dalam bidang perikanan juga membantu untuk mendeteksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) terdapat pada kepiting , dan juga agar dapat mengetahui apakah kepiting tersebut dapat dikonsumsi bagi masyarakat atau tidak dengan bantuan dari Polymerase chain reaction  yang memiliki fungsi melipat gandakan serta dapat membantu mendeteksi WSSV pada kepiting.

Sumber : http://jurnal.unpad.ac.id/jpk/article/download/2546/2304

Minggu, 08 November 2015

Budidaya Ikan Bandeng di KJA


Hasil gambar untuk ikan bandengIkan Bandeng termasuk ordo Gonorhynchiformes, famili Chanidae dan genus Chanos. Ikan bandeng juga merupakan ikan berekonomis penting serta merupakan komoditas ekpor tinggi. Budi daya bandeng (Chanos chanos) di Indonesia telah dikenal sejak 500 tahun yang lalu. Usaha ini berkembang pesat hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan memanfaatkan perairan payau atau pasang surut. Teknologi yang diterapkan juga berkembang dari tradisional yang mengandalkan masukan benih (nener) dan pengolahan makanan alami hingga pemberian pakan buatan secara terencana. Dengan rasa daging yang enak dan harga yang terjangkau, bandeng sangat digemari oleh masyarakat. Sejalan dengan meningkatnya permintaan, efisiensi budi daya menjadi tuntutan utama dalam upaya peningkatan produktivitas serta pendapatan petambak/ nelayan. Selama ini, pengembangan budi daya bandeng di masyarakat tidak banyak menemui kesulitan karena ikan ini memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan ikan lainnya (Riko et al., 2012).



   Menurut Mansyur dan Tonnek (2012) , Budidaya bandeng di Indonesia telah dikenal sejak 500 tahun yang lalu. Usaha ini berkembang pesat hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan memanfaatkan perairan payau atau pasang surut. Teknologi yang diterapkan juga berkembang dari tradisional yang mengandalkan masukan benih (nener) dan pengolahan makanan alami hingga pemberian pakan buatan secara terencana. pengembangan budidaya bandeng di masyarakat tidak banyak menemui kesulitan karena ikan ini memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan ikan lainnya, yaitu:

1) teknik pembenihannya telah dikuasai , pasokan benih tidak tergantung alam                        2) teknologi budi dayanya relatif mudah,

3) bersifat euryhaline, toleran terhadap perubahan salinitas antara 0−158 ppt

4) bersifat herbivorous dan tanggap terhadap pakan buatan,

5) formulasi pakan buatan untuk ikan bandeng relatif mudah,

6) tidak bersifat kanibal dan mampu hidup dalam kondisi

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam budi daya bandeng menggunakan KJA di laut dan muara sungai adalah:

1) penempatan KJA harus di lokasi perairan bebas dari pencemaran,
2) perairan jernih dengan salinitas

Ikan Ekor Kuning


Apa itu Ikan Ekor Kuning? 


Caesio cuning
Bentuk badan ikan ekor kuning (Caesio cuning) adalah memanjang, pipih, melebar, mulutnya kecik, memiliki gigi kecil dan lancip. Tubuh ikan ekor kuning (Caesio cuning) bagian atas sampai punggung berwarna ungu kebiruan, bagian bawah berwarna merah jambu. Ikan ekor kuning hidup di perairan pantai, karang-karang, perairan karang, dan membentuk gerombolan besar. Umumnya membentuk gerombolan besar. Ikan ekor kuning dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 60 meter. Daerah penyebarannya meliputi perairan laut tropis di perairan karang seluruh Indonesia, Teluk Benggala, Teluk Siam, sepanjang Pantai Laut Cina Selatan, bagian Selatan Ryukyu (Jepang), dan Perairan Tropis Australia (Habibun, 2011). Terdapat perbedaan pada ikan jantan dan ikan betina terutama pada gonad ikan tersebut. Pada ikan betina gonad berwarna kuning sedangkan pada jantan gonad berwarna putih.
Gonad jantan
Gonad betina
Perlu diketahui pula nilai TKG , IKG  tiap gonad ikan tersebut. dan Fekunditas khusus untuk ikan betina. Tingkat kematangan gonad juga merupakan tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan itu berpijah. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Selama itu sebagian besar hasil metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Pencatatan perubahan kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi atau tidak. Dari pengamatan perkembangan tingkat kematangan gonad ini juga didapatkan informasi kapan ikan tersebut akan memijah, baru akan memijah, atau sudah selesai memijah. TKG berbanding lurus dengan pertambahan IKG ikan, hal tersebut dapat dilihat dari nilai IKG pada setiap tingkat kematangan gonad ikan. IKG memang merupakan nilai yang digunakan untuk mengukur aktifitas gonad. Nilai IKG akan meninigkat denganmeningkatnya kematangan gonad ikan. hubungan linier antara fekunditas dengan bobot tubuh serta bobot gonad mengindikasikan bahwa umlah telur didalam ovarium mengikuti secara proporsional terhadap kedua variabel tersebut.


Faktor yang mempengaruhi fekunditas ikan adalah kondisi perairan, umur, bobot tubuh dan ketersediaan pakan. Bobot tubuh secara linier mempengaruhi jumlah telur yang ada pada ovarium. Ketersediaan pakan menjadi faktor utama karena pakan menyediakan energy yang digunakan ikan untuk pertumbuhan. Menurut Unus dan Sharifudin (2010), semakin banyak makanan maka pertumbuhan ikan semakin cepat dan fekunditasnya semakin besar. Fekunditas pada setiap individu betina tergantung pada umur, ukuran, spesies, dan kondisi lingkungan, seperti ketersediaan pakan (suplai makanan). Besar kecilnya fekunditas dipengaruhi oleh makanan, ukuran ikan dan kondisi lingkungan, serta dapat juga dipengaruhi oleh diameter telur.