Powered By Blogger

Rabu, 18 November 2015

Bioinfomatika Dalam Bidang Perikanan

Polymerase chain reaction memilik manfaat bagi kehidupan manusia karena dapat membantu untuk melipat gandakan DNA dengan bantuan enzim DNA Polimerase. PCR juga memiliki teknologi untuk rekayasa dan memperanyak suatu genetik , selain itu PCR (Polymerase chain reaction) juga dapat membantu untuk mendeteksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) yang terbaik didalam tubuh kepiting. PCR (Polymerase chain reaction) berguna bagi kompetensi manusia secara umum dapat digunakan untuk isolasi Gen pada makhluk hidup karena manusia memiliki DNA yang didalamnya mengandung berbagai gen, fungsi dari DNA sebagai sandi dari genetik yang didalamnya terdapat protein. PCR juga berguna bagi kompetensi manusia secara umum untuk menentukan kondisi urutan nukleotida suatu DNA yang mengalami mutasi genetik dan untuk membandingkan suatu finger print.
            Polymerase chain reaction cukup etis untuk norma nilai masyarakat karena memberikan dampak yang baik kepada masyarakat bukan memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat karena Polymerase chain reaction membantu untuk mengaplikasikan DNA dengan cara melipat gandakan DNA yang terdapat dalam gen manusia. DNA diperbanyak atau dilipat gandakan agar mendapatkan sandi genetik lebih banyak lagi bagi manusia. Polymerase chain reaction dalam bidang perikanan juga membantu untuk mendeteksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) terdapat pada kepiting , dan juga agar dapat mengetahui apakah kepiting tersebut dapat dikonsumsi bagi masyarakat atau tidak dengan bantuan dari Polymerase chain reaction  yang memiliki fungsi melipat gandakan serta dapat membantu mendeteksi WSSV pada kepiting.

Sumber : http://jurnal.unpad.ac.id/jpk/article/download/2546/2304

Minggu, 08 November 2015

Budidaya Ikan Bandeng di KJA


Hasil gambar untuk ikan bandengIkan Bandeng termasuk ordo Gonorhynchiformes, famili Chanidae dan genus Chanos. Ikan bandeng juga merupakan ikan berekonomis penting serta merupakan komoditas ekpor tinggi. Budi daya bandeng (Chanos chanos) di Indonesia telah dikenal sejak 500 tahun yang lalu. Usaha ini berkembang pesat hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan memanfaatkan perairan payau atau pasang surut. Teknologi yang diterapkan juga berkembang dari tradisional yang mengandalkan masukan benih (nener) dan pengolahan makanan alami hingga pemberian pakan buatan secara terencana. Dengan rasa daging yang enak dan harga yang terjangkau, bandeng sangat digemari oleh masyarakat. Sejalan dengan meningkatnya permintaan, efisiensi budi daya menjadi tuntutan utama dalam upaya peningkatan produktivitas serta pendapatan petambak/ nelayan. Selama ini, pengembangan budi daya bandeng di masyarakat tidak banyak menemui kesulitan karena ikan ini memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan ikan lainnya (Riko et al., 2012).



   Menurut Mansyur dan Tonnek (2012) , Budidaya bandeng di Indonesia telah dikenal sejak 500 tahun yang lalu. Usaha ini berkembang pesat hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan memanfaatkan perairan payau atau pasang surut. Teknologi yang diterapkan juga berkembang dari tradisional yang mengandalkan masukan benih (nener) dan pengolahan makanan alami hingga pemberian pakan buatan secara terencana. pengembangan budidaya bandeng di masyarakat tidak banyak menemui kesulitan karena ikan ini memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan ikan lainnya, yaitu:

1) teknik pembenihannya telah dikuasai , pasokan benih tidak tergantung alam                        2) teknologi budi dayanya relatif mudah,

3) bersifat euryhaline, toleran terhadap perubahan salinitas antara 0−158 ppt

4) bersifat herbivorous dan tanggap terhadap pakan buatan,

5) formulasi pakan buatan untuk ikan bandeng relatif mudah,

6) tidak bersifat kanibal dan mampu hidup dalam kondisi

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam budi daya bandeng menggunakan KJA di laut dan muara sungai adalah:

1) penempatan KJA harus di lokasi perairan bebas dari pencemaran,
2) perairan jernih dengan salinitas

Ikan Ekor Kuning


Apa itu Ikan Ekor Kuning? 


Caesio cuning
Bentuk badan ikan ekor kuning (Caesio cuning) adalah memanjang, pipih, melebar, mulutnya kecik, memiliki gigi kecil dan lancip. Tubuh ikan ekor kuning (Caesio cuning) bagian atas sampai punggung berwarna ungu kebiruan, bagian bawah berwarna merah jambu. Ikan ekor kuning hidup di perairan pantai, karang-karang, perairan karang, dan membentuk gerombolan besar. Umumnya membentuk gerombolan besar. Ikan ekor kuning dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 60 meter. Daerah penyebarannya meliputi perairan laut tropis di perairan karang seluruh Indonesia, Teluk Benggala, Teluk Siam, sepanjang Pantai Laut Cina Selatan, bagian Selatan Ryukyu (Jepang), dan Perairan Tropis Australia (Habibun, 2011). Terdapat perbedaan pada ikan jantan dan ikan betina terutama pada gonad ikan tersebut. Pada ikan betina gonad berwarna kuning sedangkan pada jantan gonad berwarna putih.
Gonad jantan
Gonad betina
Perlu diketahui pula nilai TKG , IKG  tiap gonad ikan tersebut. dan Fekunditas khusus untuk ikan betina. Tingkat kematangan gonad juga merupakan tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan itu berpijah. Perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian dari reproduksi ikan sebelum terjadi pemijahan. Selama itu sebagian besar hasil metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Pencatatan perubahan kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan-ikan yang akan melakukan reproduksi atau tidak. Dari pengamatan perkembangan tingkat kematangan gonad ini juga didapatkan informasi kapan ikan tersebut akan memijah, baru akan memijah, atau sudah selesai memijah. TKG berbanding lurus dengan pertambahan IKG ikan, hal tersebut dapat dilihat dari nilai IKG pada setiap tingkat kematangan gonad ikan. IKG memang merupakan nilai yang digunakan untuk mengukur aktifitas gonad. Nilai IKG akan meninigkat denganmeningkatnya kematangan gonad ikan. hubungan linier antara fekunditas dengan bobot tubuh serta bobot gonad mengindikasikan bahwa umlah telur didalam ovarium mengikuti secara proporsional terhadap kedua variabel tersebut.


Faktor yang mempengaruhi fekunditas ikan adalah kondisi perairan, umur, bobot tubuh dan ketersediaan pakan. Bobot tubuh secara linier mempengaruhi jumlah telur yang ada pada ovarium. Ketersediaan pakan menjadi faktor utama karena pakan menyediakan energy yang digunakan ikan untuk pertumbuhan. Menurut Unus dan Sharifudin (2010), semakin banyak makanan maka pertumbuhan ikan semakin cepat dan fekunditasnya semakin besar. Fekunditas pada setiap individu betina tergantung pada umur, ukuran, spesies, dan kondisi lingkungan, seperti ketersediaan pakan (suplai makanan). Besar kecilnya fekunditas dipengaruhi oleh makanan, ukuran ikan dan kondisi lingkungan, serta dapat juga dipengaruhi oleh diameter telur.